Tuesday, April 8, 2008

Kapal Selam Russia Dan Kekayaan Alam Di Kawasan Kutub

Dua kapal selam Rusia yang dapat menyelam jauh ke bawah permukaan laut telah berhasil melakukan percobaan menyelam di perairan kutub. Percobaan itu merupakan bagian dari upaya Rusia mengklaim hak mineral di bawah Laut Artik.
Kantor berita Rusia Itar-Tass mengatakan, kedua kapal selam mini itu yang masing-masing diawaki seorang pemandu, diluncurkan dari sebuah kapal penelitian hari Minggu melalui sebuah lubang di permukaan lapis es kutub. Kedua kapal menyelam sampai lebih dari 1300 meter ke dasar laut sebelum kembali ke permukaan.
Dalam misi lain, dua anggota Parlemen dan seorang peneliti Rusia berkemas turun sampai ke kedalaman 4200 meter di dasar laut Artik dekat kutub utara dalam beberapa hari mendatang. Di sana mereka akan menancapkan bendera Rusia dan kapsul waktu.
Pada tahun 2001 Rusia mengajukan dokumen kepada badan perundang-undangan PBB memperluas klaimnya atas perairan di lepas pantai utara wilayahnya. Amerika berpendapat perairan itu harus terbuka bagi pelayaran internasional.
Kawasan Kutub Utara diduga menyimpan sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi. Namun, selama lapisan es abadi menutupi kedua kutub bumi kekayaan alam tersebut sulit diakses.
Es abadi – itulah istilah bagi lapisan es yang menyelimuti kutub utara dan selatan bumi. Tapi lapisan tersebut kini terancam. Pemanasan global yang menyebabkan suhu rata-rata dunia naik, dapat berakibat mencairnya lapisan es yang menutupi kedua kutub. Suhu di kutub utara memang tak sedingin suhu di selatan. Suhu di kutub selatan berkisar antara minus 13 dan minus 48 derajat Celcius. Sementara, di kutub utara suhu dapat mencapai minus satu derajat Celcius di musim panas. Bila suhu di kutub udara naik sehingga melampau titik beku nol derajat Celcius, maka sebagian lapisan es dapat mencair.

Sementara pegiat lingkungan was-was mengamati perkembangan ini, lima negara yang berbatasan langsung dengan kutub utara mungkin diuntungkan menipisnya lapisan es abadi. Kelima negara itu adalah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, Denmark dan Norwegia. Peneliti Rusia memperkirakan sepuluh miliar ton minyak mentah dan gas bumi tersimpan di bawah lapisan es kutub utara, tepatnya di pegunungan bawah laut Lomonossov yang terbentang antara Greenland dan Sibiria Timur.

Sumber Daya Alam di Bawah Kutub
Ilmuwan Amerika Serikat menduga, seperempat dari persediaan minyak dan gas bumi dunia berada di bawah lapisan es Artik. Dugaan tersebut tidak didukung periset Institut Ilmu Geologi dan Sumber Daya Jerman Hermann Rudolf Kudrass: "Debat mengenai sumber daya alam di Arktik mungkin agak berlebihan. Dalam batas 200 mil laut dari Rusia, Kanada dan Amerika Serikat mungkin ditemukan kekayaan alam seperti minyak dan gas bumi. Tapi di luar perbatasan itu, yaitu daerah yang sudah termasuk kawasan kutub utara, beluam tentu ada sumber daya alam minyak dalam jumlah melimpah."

Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Kapal selam mini Russia Mir-1 menancapkan bendera di kedalaman 4261 meter
Kelima negara yang berbatasan langsung dengan kawasan Kutub memang memiliki hak atas zona ekonomi eksklusif yang mencakup kawasan 200 mil dari batas pantai mereka. Dalam zona tersebut mereka dapat menggali sumber daya alam dan melakukan riset dengan bebas, demikian ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB. Namun, bila sejumlah persyaratan dipenuhi maka zona tersebut dapat diperluas.

Klaim Lima Negara
Rusia mencoba membuktikan klaim mereka atas kawasan kutub utara. Musim panas tahun lalu sebuah kapal selam Rusia menjelajah ke kawasan tersebut dan menancapkan bendera logam titan di dasar laut di bawah kutub utara.

Namun, aksi yang disoroti media internasional ini tak memiliki konsekuensi secara politik kata ahli hukum kelautan Universitas Kiel Alexander Proelß: "Dilihat dari segi hukum, aksi ini tidak terlalu signifikan. Seluruh kawasan perairan dunia berada di bawah hukum internasional dan pembagiannya sudah diatur. Tak ada negara yang dapat begitu saja mengklaim kepemilikan suatu kawasan dengan menancapkan benderanya. Rusia sedang berusaha membuktikan bahwa dasar laut di bawah kutub utara adalah perpanjangan dari daratan Rusia."


Perluasan Zona Ekonomi Eksklusif
Klaim perluasan zona ekonomi laut hanya sah bila suatu negara dapat membuktikan bahwa formasi geologis daratannya sama dengan struktur geologis di dasar laut. Karena itu, kapal selam Rusia juga mengambil sampel tanah dari dasar laut untuk membuktikan tuntutan mereka, Kawasan kutub utara atau tepatnya pegunungan bawah laut Lomonossov kini diperebutkan antara Rusia, Kanada dan Denmark.

Namun klaim masing-masing negara masih harus diperkuat bukti yang hanya dapat dihasilkan dengan melakukan pemboran, kata Herman Rudolf Kudrass dari Institut Ilmu Geologi dan Sumber Daya. Kudrass menekankan, pemboran di dasar laut: "Kapal yang mengangkut peralatan harus mempertahankan posisinya selama berhari-hari dan hanya boleh bergeser maksimal sepuluh meter. Sementara lapisan es bisa bertambah atau berkurang dua meter di seputar tempat pemboran."

Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Kapal pemecah es di pelabuhan Helsinki
Kapal pengangkut peralatan tak dapat bergerak sendiri. Agar dapat mencapai titik tempat pemboran dilakukan, sebuah kapal pemecah es harus membuka jalan terlebih dahulu. Kudrass sendiri pernah mengalaminya. Ia ikut menyaksikan satu-satunya pemboran di pegunungan bawah laut Lomonossov yang merupakan bagian dari program International Ocean Drilling Program (IODP) atau program pemboran dasar laut internasional.

Program yang menelan biaya 12 juta Euro ini hanya menembus lapisan sedimen dan tidak sampai menyentuh formasi batu-batuan. Dengan begitu, belum ada pembuktian bahwa kawasan kutub utara merupakan perpanjangan landas benua salah satu negara di kawasan itu.

Hak Penambangan
Dengan naiknya suhu udara rata-rata di dunia, perdebatan mengenai hak penambangan sumber daya alam yang tersimpan di bawah lapisan es kutub utara pun memanas. Walau belum ada bukti bahwa ada persediaan minyak dan gas bumi di bawah kutub utara, lima negara yang lautnya berbatasan langsung dengan laut Artik berkepentingan untuk membuktikan klaim mereka. Kelima negara itu adalah Amerika Serikat, Rusia, Kanada, Denmark dan Norwegia. Seandainya bukti tersebut ditemukan pun, penambangan dari dasar laut Artik harus dipertimbangkan.

Riset di Kutub
"Kedalaman laut rata-rata 4.000 meter, secara teknis riset di kedalaman ini masih tergolong baru. Belum jelas berapa dalam kita harus melakukan pemboran. Karena itu, harga riset ini sangat mahal. Belum lagi peraturan keamanan dan amdal yang harus dipenuhi. Sebelum melakukan riset di kawasan tersebut, semua hal itu harus dikalkulasi sebelumnya. Kalau biaya produksinya terlalu tinggi, harga jual akhir juga harus tinggi. Kalau tidak, para investor akan rugi."

Demikian dikatakan Christian Reichert yang bekerja untuk Institut Ilmu Geologi dan Sumber Daya di Hannover. Reichert menambahkan, masalah pemboran di dasar laut Artik tak hanya terbentur masalah teknis dan pendanaan. Sejumlah peraturan amdal pun harus dipenuhi. Sebenarnya risikonya tidak terletak pada penambangan lepas pantai tapi pada transpornya. Kecelekaan yang menyebabkan minyak dan gas bumi mengalir bebas ke laut akan berakibat fatal bagi lingkungan. Minyak mentah tersebut dapat menyerap masuk ke dalam pori-pori lapisan es. Selain itu, di kawasan kutub utara dengan suhu rata-rata di bawah nol derajat tidak ada mikro-organisme yang dapat menghancurkan lapisan minyak yang menutupi permukaan laut.

Bildunterschrift: Großansicht des Bildes mit der Bildunterschrift: Citra satelit European Space Agency menunjukkan menipisnya lapisan es kutub
Terlepas dari semua masalah teknis, pendanaan dan perlindungan lingkungan, kelima negara yang merasa memiliki hak atas sumber daya alam di bawah kutub utara tetap melakukan riset untuk membuktikan klaim mereka. Keputusan terakhir berada di tangan Komisi PBB yang mengatur tentang perbatasan landas kontinen atau Commission on the Limits of the Continental Shelf (CLCS). Pakar Hukum Kelautan Alexander Proelß: "Komisi yang mengatur tentang perbatasan dataran bawah laut hanya berhak menentukan perbatasan terluar. Mereka tidak memiliki kompetensi untuk memutuskan sesuatu bila ternyata bagian daratan tersebut saling bertumpuk di bawah laut. Kesepakatan Hukum Kelautan menyatakan negara-negara yang kawasannya berbatasan langsung dengan Kutub Utara harus kembali melakukan perundingan."

Klaim Tanpa Bukti Ilmiah
Komisi PBB memberikan waktu sampai tahun 2014 untuk mengajukan hasil riset yang membuktikan klaim atas kawasan bawah laut Kutub Utara. Klaim pertama diajukan Rusia tahun 2001, namun Komisi PBB menuntut bukti ilmiah lebih banyak. Sementara keempat negara lainnya berupaya keras untuk menyelesaikan riset yang mendukung klaim masing-masing. Beberapa pengamat kuatir, perebutan hak untuk menggali sumber daya alam di dasar laut kutub utara akan menimbuklan persaingan yang mungkin memicu semacam perang dingin baru. Namun, estimasi ini tidak didukung ahli hukum kelautan Alexander Proelß:

"Kemungkinan perang dingin kembali pecah sangat kecil. Kepentingan negara-negara itu sudah disalurkan, pertama melalui komisi perbatasan, dan yang kedua, negara anggota tersebut berkewajiban bekerja sama melalui badan yang sudah ada seperti Dewan Kutub Utara. Karena itu, saya rasa perang dingin tak akan pecah karena hal ini

Kapal selam Russia kelas KILO (636)

Seperti diberitakan di beberapa Media sebelumnya, Indonesia berencana membeli kapal selam baru dari Russia yang dimasukkan dalam satu paket pembelian alutsista. Rumor yang beredar, dari 2 unit yang di pesan TNI-AL akhirnya direvisi hanya 1 unit. Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan Russia cukup mahal, sehingga bisa di kopensasikan untuk alutsista lainnya.Kapal selam yang dipesan TNI-AL nantinya merupakan kapal selam bertenaga diesel elektik yang telah dimodernisasi dari kelas Kilo. Ada 2 type dari kelas Kilo yang diprosuksi Russia, yang dipilih TNI-AL type 636/ project 636. Berikut ulasannya.SejarahKilo adalah nama kelas yang diberikan NATO untuk kapal selam militer bertenaga diesel buatan Rusia. Versi asli dari kapal selam ini di Rusia dikenal dengan nama Project 877. Kapal selam kelas ini juga memiliki versi yang lebih baru yang dikenal dengan nama Improved Kilo dan di Rusia dikenal dengan Project 636.Berfungsi sebagai anti kapal permukaan dan anti kapal selam dan beroperasi di perairan dangkal. Kapal selam kelas kilo mampu beroperasi dengan tenang. Project 636 dikenal sebagai salah satu kapal selam yang menghasilkan suara terlemah di dunia.Kapal selam pertama kelas kilo untuk angkatan laut Uni Sovyet beroperasi pada tahun 1982. Angkata laut Rusia masih memiliki kapal selam kelas ini. Angkatan laut Rusia per tahun 2000 dilaporkan memiliki 14 buah kapal selam kelas ini termasuk 7 cadangan. 21 buah diekspor ke beberapa negara : Aljazair (2 kelas Kilo), China (2 kelas Kilo, 2 kelas Improved Kilo, dan 8 kelas Improved Kilo dalam pesanan), India (10 kelas Kilo), Iran (3 kelas Kilo), Polandia (1 kelas Kilo - ORP Orzel (kelas Kilo), Rumania (1 kelas Kilo, dalam keadaan tidak operasional) dan Indonesia (1 kelas Improved Kilo dalam pesanan).SpesifikasiAda beberapa varian kelas Kilo sehingga spesifikasi berikut mungkin tidak cocok untuk semua varian. Berikut adalah spesifikasi secara kasar.• Bobot : 2.300-2.350 ton ketika mengapung. 3.000-4.000 tons ketika menyelam.• Dimensi : Panjang : 70-74 meter.• Beam: 9.9 meter.• Draft: 6.2-6.5 meter.• Kecepatan maksimum: 10-12 knot ketika mengapung. 17-25 knot ketika menyelam.• Sistem propulsi : Diesel elektrik.• Kedalaman maksimum : 300 meter (operasional : 240-250 meter).• Ketahanan : 400 mil ketika menyelam dengan kecepatan 3 knot. 6.000 mil ketika mengapung dengan kecepatan 7 know. (7.500 mil pada kelas Improved Kilo). 45 hari di laut.• Persenjataan Pertahanan udara : 8 roket permukaan ke udara SA-N-8 Gremlin atau SA-N-10 Gimlet.• Torpedo : 18 torpedo atau 24 ranjau, enam buah tabung torpedo 533mm.

Russia Menempatkan Lebih dari 30 Alutsista Baru Sepanjang Januari-Juni 2007

MOSCOW, 3/8 (RIA Novosti) - "Komisi Pertahanan Russia telah menempatkan lebih dari 30 tipe alutsista baru dari advanced weapon systems di smester pertama 2007 ini", demikian dikatakan mentri pertahanan Jumat (3/8)."36 tipe alutsista modern telah ditempatkan Russian Armed Forces (RAF) diawal semester 2007," ujar Anatoly Serdyukov.Menhan Russia mengatakan, alutsista ini termasuk kapal selam berpeluncur SINEVA balistic missil (R-29RM), kompek pertahanan udara S-400 Triumf, dan 120-mm NONA SM-1 towed mortar untuk kekuatan AD.R-29RM Sineva (NATO codename SS-N-23) di desain untuk digunakan pada kapal selam Russia kelas Delta IV, tiap-tiap kapal selam mampu membawa 16 missil. Termasuk 4 hulu ledak nuklir dengan jarak jangkau 8,500 kilometer.Serdyukov juga mengatakan, Russia telah berhasil menguji peluncur 'YARTS' (Land-Based Ballistic Missile), sebagai peluncur laut BULAVA ballistic missil dan X-102 airborne missile."Kami telah memasuki uji akhir untuk keseluruhan jenis missil," ujarnya.Sebagai tambahan, Russia juga berhasil menguji versi terbaru ISKANDER-M ballistic missil, yang kapabel membawa multiple warheads (beberapa hululedak) dan 2 peluncur satelit komunikasi dan intai mata-mata, tambah mentri pertahanan.

Rusia Modernisasi Armada MiG-31

Rusia berencana memodernisasi armada jet tempur interseptornya, MiG-31 Foxhound
MiG-31.
Foto: testpilot.rusehingga bisa digunakan untuk 25 tahun ke depan. Demikian Kepala Staf AU Rusia, Jenderal Vladimir Mikhailov menyatakan hal tersebut segaimana dikutip Ria Novosti (2/11).
Dengan modernisasi itu, MiG-31 akan meningkat kemampuan tempurnya sebagai garda pertahanan udara. Pesawat akan dimodernisasi sedemikian rupa sehingga berkemampuan stealth. "Pesawat juga akan dilengkapi rudal yang mampu menghancurkan target dari jarak lebih 200 km," kata Mikhailov. Proses modernisasi akan dikerjakan di Sokol Aircraft Plant di Nizhny, Novgorod, Rusia Pusat.
Dengan modernisasi tersebut, MiG-31 akan menjadi andalan Rusia dalam menghadapi semua jet tempur generasi kelima baik dari sisi performa maupun kemampuan persenjataan dan elektronikanya.
Sejak diproduksi tahun 1978 hingga saat ini terdapat sekitar 500 unit MiG-31. Sebanyak 370 unit diantaranya dioperasikan oleh AU Rusia. Bila modernisasi ini berjalan mulus, direncanakan the new MiG-31 akan mulai masuk dinas pada tahun 2015.

MiG-31 The Super Foxbat

Gara-gara Belenko bilang bahwa pesawat incaran AS itu adalah super Foxbat, jadilah AS dan NATO kelabakkan. Rudal mana yang bisa menembus pertahanan udara Rusia jika monster satu ini mampu terbang supersonik di permukaan Bumi?
Mikoyan-Gurevich MiG-31 Foxhound pantas disebut sebagai salah satu interceptor paling tangguh yang masih operasional saat ini. Kekaguman atas ketangguhannya meliputi performa, persenjataan dan avionik. Walau sudah terbang sejak 30 tahun silam, monster kilat satu ini masih diakui sebagai salah satu elemen pertahanan udara terhebat Rusia. Dibentuk sebagai tulang punggung sejak masa Perang Dingin, MiG-31 Foxhound masih akan menjaga pos-pos strategis pertahanan udara Rusia pada abad 21 ini.
Soviet memulai riset pengembangan pesawat berkemampuan jarak jauh untuk menggantikan Tupolev Tu-28 dan MiG-25 Foxbat. Riset ini dimulai akhir 1960. Selain itu, proyek juga dimaksudkan untuk mencari penangkal ancaman rudal jelajah ketinggian rendah yang diluncurkan dari pesawat AS dan NATO, pembom B-52 atau B-1. Hanya saja karena kelahiran MiG-25 terpancing oleh rencana kelahiran pembom berkecepatan Mach 3 B-70 Valkyrie, kehadirannya jadi tidak efektif untuk menangkal pembom NATO.
Kondisinya makin runyam menyusul diubahnya taktik penggelaran pesawat tempur dan pembom NATO sejak 1960-an. Pesawat-pesawat Barat lebih memilih terbang rendah guna menghindari ancaman rudal darat ke udara (SAM). Sementara rudal jelajah terbaru yang digunakan Barat berkemampuan terbang rendah pada kecepatan tinggi, hingga membuatnya susah dicegat. Sudah jelas, MiG-25 tidak siap untuk mencegat rudal yang datang pada kecepatan supersonik di ketinggian rendah.
Fakta inilah yang mendasari kenapa Rusia butuh jet pencegat yang mampu beroperasi pada berbagai level ketinggian dengan kecepatan supersonik. Dengan demikian, semua target yang ada, sebesar apapun, akan mampu dilibas.
Kebutuhan ini langsung direstui Kremlin. Dimulai pada 1967, proyek ini diberi nama MiG-31. Pada 24 Mei 1968, Pemerintah Soviet mengirimkan order produksi untuk prototipe Ye-155MP. Saat itu MiG-31 mengusung radar Zaslon yang mampu mendeteksi semua tipe target terbang pada jarak jauh dan di berbagai ketinggian. Dengan demikian, MiG-31 bersifat independen dari ground control. Dalam kondisi normal operator radar belakang bertugas menuntun pilot ke target, namun MiG-31 juga bisa dipandu dari bawah menggunakan digital datalink.
Ye-155MP (serial 831) terbang perdana 16 September 1975 dengan pilot uji kepala Aleksandr Fedotov di kokpit (Fedotov dan krunya gugur ketika MiG-31 jatuh setelah mengalami kegagalan sistem pada 4 April 1984). Prototipe kedua (serial 832) yang terbang 22 April tahun berikutnya, masih dipiloti Fedotov. Pesawat ini selain sudah dilengkapi avionik lengkap termasuk radar Zaslon dan sensor infra merah, luas sayap juga sudah dikurangi dan fin di bawah sayap yang lebih kecil.
Pada 1977 dua pesawat pra-produksi dibuat oleh Sokol Aviation Manufacturing Plant di Nizhny Novgorod. Pesawat pertama terbang 30 Juni dan kembarannya 13 Juli. Dibanding dua prototipe sebelumnya, pesawat ini terlihat beda. Bentangan flaps meningkat, sayap direvisi, ekor tegak lebih tinggi dan pemasangan kanon GSh-6-23 masing-masingnya mengusung enam laras kaliber 23 mm.
Mei 1977 menandakan dimulainya pengujian resmi putaran pertama yang berakhir Desember 1978. Mengikuti hasil yang memuaskan dengan salah satu hasil MiG-31 mampu menjejak tidak kurang dari 10 target secara simultan, produksi akhirnya diputuskan untuk dimulai di Sokol pada 1979.
Beragam varian pesawat digunakan selama pengujian MiG-31. Termasuk dua Tu-104 sebagai platform uji radar Zaslon, MiG-21 untuk pengembangan rudal R-33 serta tiga MiG-25 untuk rudal R-33, mesin dan integrasi avionik. Putaran kedua uji resmi dimulai September 1979 dan berakhir setahun kemudian.
Setelah merampungkan putaran kedua uji resmi yang dimulai September 1979 hingga setahun kemudian, MiG-31 diputuskan untuk memulai tahap produksi. Sejak produksi dimulai 1979, 450 Foxhound dibuat hingga produksi terakhir diserahkan April 1994.
Pesawat pertama dikirim ke AU Soviet pada 1981 dan beroperasi tiga tahun kemudian. Sampai akhir 1980-an, MiG-31 beroperasi dari 11 resimen pertahanan udara untuk menggantikan MiG-23, Su-15 dan Tu-28. Pada 1987, lebih dari 150 MiG-31 digelar di penjuru negeri, khususnya di timur dan barat Soviet.
Penampakkan pertama Sekitar 315 MiG-31 diyakini masih aktif di jajaran pertahanan udara Rusia. Sekitar 34 di antaranya tertinggal di Kazakhstan, tepatnya di pangkalan di Semipalatinsk, menyusul ambruknya Uni Soviet. Walau dari segi teknologi sudah terbilang ketinggalan, pabrikan Sokol sepakat untuk siap memproduksi kembali tandingan F-15E Strike Eagle ini mesti dalam jumlah terbatas. Hanya saja sejauh ini seperti dilaporkan AirForces Monthly (12/2006), belum satu pun order diterima meski Iran dan Syria menunjukkan minat terhadap monster satu ini.
Bagi dunia Barat, tabir MiG-31 mulai tersibak sejak pembelotan pilot Viktor Ivonovich Belenko dengan mendaratkan MiG-25 di Jepang, September 1976. Saat diinterogasi otoritas AS, Belenko mengungkapkan keberadaan MiG-31. "MiG-31 is a super Foxbat with two seats, a strengthened fuselage and powerful look-down/shoot down radar," jelas Belenko. Sejak itu, AS dan NATO gigih melacak keberadaan si super Foxbat. Seperti apa gerangan dan secepat apa terbangnya?
Hingga satu hari di tahun 1978, satelit mata-mata AS menangkap sebuah prototipe atau mungkin sebuah pesawat praproduksi terbang di ketinggian 6.000 m. "Benda" aneh itu terpantau tengah menyegat rudal jelajah (target drone) di ketinggian 60 m dan pada jarak 20 km dari MiG-31. Tahun 1982 NATO akhirnya mengimbuhkan nama Foxhound kepada MiG-31. Barulah pada 1985, pihak Barat punya foto bukti ketika pilot AU Norwegia mengintersep Foxhound di atas Laut Barents sambil tak lupa mengarahkan kameranya. Akhirnya pada Paris Airshow 1991, Rusia untuk pertama kali mempertontonkan MiG-31 di depan mata rivalnya.
Seperti roket Walau MiG-31 selintas mirip MiG-25, pesawat ini sepenuhnya baru. Bisa dilihat dari konfigurasi dasarnya high-mounted swept wing, air intake empat persegi yang diagonal di kedua sisi, dua sirip perut di bawah ekor dan dua lagi sirip meruncing di kedua sisi mesin. Perbedaan menyolok lainnya ada pada LERX (Leading Edge Root Extension) yang mempunyai sudut bujur (sweep angle) 70 derajat. Kedua sayap didesain swept back 41 derajat. MiG-31 juga mengusung airframe sama sekali baru yang diperkuat hingga 5 g (gravitasi). Bandingkan dengan MiG-25 yang hanya 4,5 g. Itulah alasan mengapa MiG-31 mampu melaju supersonik di ketinggian rendah. Bahkan untuk sea level, jet ini mampu melesat Mach 1,2.
Soal airframe, jabarannya begini. Sekitar 49% arcwelded nickel steel, 33% light metal alloy, 16% titanium dan 2% composite. Dengan komposisi badan seperti ini, MiG-31 lebih ringan dari pesaingnya namun jelas lebih berat dari MiG-25. Sejumlah pilot yang pernah menerbangkan MiG-31 mengaku takjub. Canggih, kencang, bisa jarak jauh dan menanjak seperti roket, begitu kesan mereka.
Roda pendarat tak lepas dari perhatian. Sama sekali baru dengan pola segitiga. Karena bobotnya yang berat, setiap roda menerapkan sistem ganda. Baik roda depan maupun roda pendarat utama. Yang unik di main landing gear. Setiap roda dipasang ganda dengan bentuk menyilang. Roda ini masuk ke kompartemen penyimpan roda dengan cara naik ke depan, ke arah air intake. Dengan bentuk unik dan cara menggelinding saling memperkuat, membuat MiG-31 mampu dioperasikan dari lapangan bersalju maupun tradisional. Masih karena performanya, rem udara (air brake) mini tergantung di depan engine intake. Unik memang dan sistem penahan laju ini masih diperkuat sepasang parasut yang ditempatkan di bagian atas mesin.
Salah satu syarat penting MiG-31 sebenarnya bukan lagi bagaimana menaikkan kecepatan tetapi bagaimana menambah jarak jangkau terbang. Jawabannya tentu saja ada pada mesin yang lebih efisien. Sepasang mesin Soloviev D-30F6 turbofan dipilih karena setiap mesin mampu menyemburkan tenaga sebesar 20.945 pon (93,16kN). Akan mencapai 34.170 pon (151,99kN) jika menggunakan afterburning.
D-30F6 sebenarnya bukanlah mesin baru, karena sudah dikembangkan untuk komersial dan mengadopsi bahan bakar high density T6. Hanya saja karena ukurannya yang besar (panjang 7.040 mm, diameter 1.020 mm) dan kapasitas besar, air intake mesti diperluas untuk mampu memasok udara yang dibutuhkan.
Pembesaran bodi MiG-31 juga diperlukan untuk menampung lebih banyak bahan bakar hingga mencapai 19.940 liter. Bahan bakar ini dipilah-pilah di tujuh tangki bodi, empat tanki sayap dan dua tangki lagi di fin. Jika masih diperlukan, ditambahkan tangki di setiap sayap dengan kapasitas masing-masing 2.500 liter.
Avionik Awalnya para perancang menginginkan kedua kru duduk secara berdampingan (side by side) sebelum akhirnya diputuskan sistem tandem. Pilot di depan dan "pilot kedua" (weapons system officer) di belakang. Kanopi didesain mandiri untuk setiap kru. Untuk kanopi belakang, ditambahkan jendela kecil yang kurang menguntungkan untuk memantau kondisi luar bagi rear crew. Sebagai kompensasi operator radar dilengkapi retractable periscope. Sebagaimana lazimnya di pesawat tempur berkursi tandem, kru kedua juga mampu menerbangkan pesawat dalam keadaan emerjensi.
Soal keamanan terbang, kursi lontar zero-zero Zvezda K-36DM tak diragukan kemampuannya. Menyatu dengan kursi adalah bantal pemijat untuk menjamin pilot tetap nyaman saat melaksanakan patroli jarak jauh. Tak hanya itu, juga tersedia pemanas punggung untuk alasan serupa.
Salah satu kunci kesuksesan MiG-31 adalah avionik digital versi terakhir dan radar jarak jauh. Sensor utamanya adalah NIIP Zaslon S-800 yang mampu memindai secara elektronik dan mengatur penembakkan.
Sebagai radar pertama yang dioperasikan, radar ini memberi pengecualian, dengan mampu mengendus target sejauh 124 km kedepan dan 90 km ke belakang. Saat bersamaan Zaslon akan melacak target sejauh 120 km. Zaslon disebut sebagai radar Soviet pertama berkemampuan look down shoot down. Pasalnya radar ini mampu melacak 10 target secara bersamaan dan "menghadiahi" empat di antaranya dengan rudal R-33 Vympel (versi terbaru R-37). Begitulah cara kerja komputer misi digital Argon 15. Penting diungkap juga dukungan sistem komunikasi APD-518 digital air to air datalinks. Kelebihannya adalah, ketika empat pesawat terbang dalam formasi grup pencegat, pesawat komando bisa tersambung dengan jaringan pemandu otomatis AK-RLDN di darat. Sementara pesawat lainnya mendapat pasokan informasi dari pesawat komando. Dengan formasi dua-dua, sapuan radarnya akan terakumulasi jadi seluas 900 km.
Untuk optimalisasi misi, datalinks terhubung dengan radar terbang (AWACS) Antonov An-50 Mainstay. Selain itu MiG-31 juga dilengkapi MB5U15K air to ground tactical datalink dan jalur komando BAN-75.
Begitu pula avionik navigasi yang sangat sempurna untuk mendukung MiG-31 terbang ke wilayah udara Arctic guna mencari pesawat Barat yang mengancam. Bayangkan terbang di hamparan Kutub Utara yang tak bersahabat. Untuk itu sistem avionik navigasi canggih jadi syarat tak terbantahkan. Terdiri dari navigasi radio jarak jauh Marshrut dan jarak menengah Tropik (sebanding dengan Omega dan Loran di AS). Hal-hal lainnya adalah voice warning system, intercom and radar homing and warning system (RHAWS). Sementara alat bela diri elektronik diperkuat UV-3A flares dispensers. Tak seperti MiG-25, MiG-31 dilengkapi internal gun GSh-6-23M enam laras Gatling kaliber 23 mm.
Sebagai keputusan Rusia untuk mempertahankan MiG-31 minimal hingga 2010, dipastikan akan dilakukan sejumlah upgrading di kemudian hari. Apapun itu, pencegat tercepat ini akan tetap terbang hingga beberapa tahun ke depan, mengawal ruang udara Rusia.
Varian:
MiG-31BSetelah varian pertama MiG-31A, MiG-31B dengan perkuatan radar Zaslon-A, ECM, electronic warfare, meningkatkan rudal R-40TD dan R-60, upgrade R-33, flight refueling probe dan meningkatkan sistem navigasi jarak jauh A-723 kompatibel dengan Loran/Omega dan stasiun darat Chaika. MiG-31B "tua" di-upgrade jadi MiG-31BS dan Juli 2000, setengah dari 280 aset AU di-upgrade.
MiG-31ENama untuk versi ekspor Foxhound A. Pengurangan pada sistem, tidak ada jammer aktif, pemangkasan IFF dan radar. Ditawarkan ke Cina dan India. Satu-satunya prototipe varian ini terlihat pada 1997, itu pun akhirnya dibatalkan. MiG-31 Eh. Eh berarti ekspor, ditawarkan ke Cina tahun 2000 dan diumumkan di Zhuhai Air Show 2000. Sepertinya juga batal.
MiG-31FDiproyeksikan sebagai multi role interceptor dan fighter-bomber dengan mampu membawa TV, radar dan rudal udara ke permukaan berpenuntun laser.
MiG-31BMDiambil dari MiG-31F, merupakan varian defense suppression dan serangan darat. Demonstratornya terlihat tahun 1998 dan dibuat untuk menggantikan MiG-31M. Jika umumnya MiG-31 upgrade mendapat perkuatan struktur untuk meningkatkan masa pakai, tidak jelas apakah MiG-31BM juga mendapatkannya. Dua MiG-31BM dibuat dan prototipenya dipublikasikan pada 1999.
MiG-31DDikhususkan sebagai platform pembaca rudal antisatelit. Gampang dikenali dari bagian perut yang rata. Setelah uji terbang 1987, produksinya dibatalkan.
MiG-31FE/MFVarian yang disiapkan sebagai versi ekspor dari MiG-31BM atau MiG-31F.
MiG-31LLLL yang merupakan singkatan dari "laboratorium terbang" dalam bahasa Rusia, dibuat sebagai pesawat uji di pusat uji terbang Zhukovsky. Salah satunya sebagai penguji kursi lontar. Juga dilaporkan dipasangi kamera di wingtips.
MiG-31M Foxhound BVersi canggih yang belum diproduksi walau sudah terbang pada 21 Desember 1985. Sentuhan radikal terlihat pada mesin, akomodasi, avionik, navigasi, senjata, bahan bakar dan struktur. Prototipe pertama yang diproduksi dari konversi MiG-31B, jatuh pada 9 Agustus 1991.
MiG-31SDitargetkan untuk mengisi kebutuhan komersial pesawat peluncur satelit kecil.
Fakta MiG-31- Berat total MiG-31 sebanding dengan berat 4 MiG-29 kondisi kosong atau 2 pembom Canberra.- Kanon GSh-23 mampu menembakkan 6.000-8.000 peluru/menit.- Mampu menembak jatuh rudal jelajah di ketinggian rendah dari jarak 20 km dan ketinggian 6 km.
Missile Notes1. R-37 (NATO = AA-X-13) rudal jarak jauh (150 km). 2. R-77 (NATO = AA-12) rudal udara ke udara (75 km).3. Kh-29L (NATO = AS-14) rudal udara ke permukaan (10 km)4. R-40 rudal jarak sedang (78 km) dan rudal jarak dekat R-60 (12 km) serta beberapa jenis rudal lagi.
SpesifikasiKarakteristik umum· Kru: Two · Panjang: 22,69 m (74 kaki 5 in)· Rentang sayap: 13,46 m (44 kaki 2 in)· Tinggi: 6,15 m (20 kaki 2 in)· Wing area: 61,6 m² (663 kaki)· Berat kosong: 21.820 kg (48,100 lb)· Berat termuat: 41.000 kg (90,400 lb)· MTOW: 46.200 kg (101,900 lb)· Mesin: 2× Soloviev D-30F6 afterburning turbofans Performa· Kecepatan maks: 1.500 km/jam clean at sea level, 3.000 km/jam (1.860 mph) di ketinggian· Combat radius: 720 km · Ferry range: 3.300 km · Ketinggian: 20.600 m · Rate of climb: 208 m/detik· Wing loading: 666 kg/m² · Thrust weight: 0.85· Maximum g-load: 5 g

TNI AU Lengkapi Persenjataan Sukhoi

TNI Angkatan Udara (AU) terus melengkapi sistempersenjataan untuk empat unit pesawat tempur buatan Rusia jenisSukhoi, meski Amerika Serikat telah menghapus embargo militer terhadapIndonesia.“Sampai sekarang kami masih terus melengkapi sistem persenjataan dipesawat tempur Sukhoi guna memaksimalkan dukungan pertahanan udarakita,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI HermanPrayitno kepada Antara di Kediri, Jawa Timur, Minggu (10/9).Lebih lanjut, dia mengungkapkan pengadaan senjata pesawat tempurSukhoi merupakan kewenangan penuh Panglima TNI. “Sedang kami hanyamenyerahkan daftar jenis-jenis senjata yang dibutuhkan pesawat tempurSukhoi,” ujarnya saat ditemui dalam acara Reuni Akbar ke-60 SMA Negeri1 Kediri itu.Sukhoi yang dioperasikan TNI-AU sejak 2004 lalu merupakan jenispesawat tempur generasi terbaru, bahkan pasukan angkatan udara Rusiapun ternyata belum mengoperasikan jenis ini.Pesawat tempur yang dijuluki Flanker ini adalah jenis Sukhoi Su-27 SKUpgrade dengan sepasang mesin masing-masing berdaya dorong 12.550kilogram jenis Lyulka AL-31F.Kelebihan pesawat tempur jenis dilengkapi dengan Infra Red Search andTrack (IRST) berupa bola kaca di depan kokpit, yang mampu mengendussasaran sejauh 70 kilometer. Perlengkapan ini tidak dimiliki pesawattempur lainnya di beberapa skadron TNI-AU sampai sekarang ini.Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AU Kolonel (Pnb) Daryatmo di Jakartabelum lama ini mengatakan, beberapa senjata yang kini mulaiditempelkan di tubuh keempat unit Sukhoi milik TNI AU antara lainrudal Cannon dan pada akhir 2006 nanti akan segera dilengkapi denganroket dan misil.Sedangkan untuk sasaran darat pesawat Sukhoi dapat dilengkapi denganrudal H-31P berjarak jangkau 100 kilometer atau rudal anti kapal jenisH-31A berjarak jangkau 50 kilometer. Dengan kapasitas bahan bakarseberat 6.000 kilogram pesawat ini mampu mengadakan patroli sejauh1.500 kilometer dari pangkalan tolak atau terbang selama empat jam.Ia menambahkan, Sukhoi rencananya akan mengusung rudal udara AA-12Adder yang mampu menjelajah sejauh 50 kilometer melebihi AMRAAM yanghanya 40 kilometer atau pun rudal udara jenis R-73 yang mampu menembakpada sasaran ke arah samping hingga sudut 70 derajat.Seluruh persenjataan itu merupakan senjata udara paling mematikan saatini, lebih andal dari rudal keluaran Israel jenis Python atau punAIM-9L/M Sidewinder yang biasa dipakai negara Barat.Untuk meningkatkan kesiapan, Sukhoi telah menjalani test flight secaraperiodik di sekitar Pangkalan Udara TNI AU di Makassar, bahkan saatterbang di ketinggian sekitar 25.000 kaki itu sempat mengeluarkan“sonic bom” hingga menimbulkan dugaan adanya kecelakaan di sekitararea latihan

Rusia Lanjutkan Penjualan Sukhoi ke Indonesia

Pemerintah Rusia tetap melanjutkan perjanjian kerjasama bidang militer dengan Indonesia melalui nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh kedua negara, terutama rencana Indonesia untuk membeli enam unit pesawat tempur jenis Sukhoi melalui kredit ekspor pemerintah Rusia. ''Kredit negara tetap dilaksanakan seperti sebelumnya. Akhir bulan ini, sejumlah delegasi Rusia akan ke Jakarta untuk membahas kontrak tentang pembelian sejumlah alusista Rusia,'' kata Alexander A. Ivanov Dubes Federasi Rusia untuk Indonesia kepada wartawan usai bertemu Menhan Juwono Sudarsono di Dephan, Jakarta, Rabu (19/3). Ivanov mengakui bila dikatakan kelanjutan kerjasama kedua negara tentang pembelian alutsista dari Rusia melalui fasilitas kredit ekspor mengalami keterlambatan hal ini disebabkan masalah interen yang dihadapi pemerintah Rusia. Namun demikian pihaknya tidak akan mengubah perjanjian yang telah ditandatangani dan disepakati oleh kedua Kepala Negara tersebut. ''Kita harus mengerti itu suatu proses karena berkaitan dengan berbagai macam aspek dari segi teknis peralatan tertentu.'' kata Ivanov Ivanov menambahkan sikap dan kebijakan pemerintah Rusia terhadap Indonesia akan terus sama, sebab hingga saat ini Rusia memandang Indonesia sebagai mitra dekat Dia menjelaskan state kredit yang diberikan nanti, tidak perlu dilakukan pertemuan kembali antar Kepala Negara tapi cukup dengan perwakilan –perwakilan pejabat yang terkait saja yang paham secara teknis. Sebab secara teknis peralatan dan perlengkapan yang didatangkan dari Rusia adalah teknologi tercanggih sehingga harus dibahas secara detail. ''Misalnya pilot Indonesia belajar untuk naik MI-17 dan bagaimana perawatan pesawat terbang itu,'' kata Ivanov. Sebelumnya Departemen Pertahanan (Dephan) telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah Rusia terkait rencana pembelian enam unit pesawat tempur jenis Sukhoi senilai US$355 juta. Sementara Rusia sepakat akan memberi kredit ekspor kepada Indonesia untuk pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan nilai total kredit ekspor yang sudah disetujui, yaitu US$1 milliar